Kamis, 04 Februari 2010

Integrasi Kebersamaan dan Toleransi

Bicara kebersamaan akan lebih efektif jika diimbangi dengan toleransi, karena kedua unsur tersebut adalah bagian dari kehidupan sosial terhadap sesama. Apabila kebersamaan tidak mengikutsertakan toleransi, kemungkinan besar dalam kebersamaan tersebut timbul sebuah ketimpangan yang merugikan salah satu pihak.

Jika kebersamaan menjadi sebuah tujuan, maka toleransi menjadi sebuah kewajiban sebagai instruktur pertimbangan dalam menentukan hal-hal yang berkaitan dengan kebersamaan itu. Kita ambil contoh sebuah komunitas kecil seperti kelas di sekolah atau perguruan tinggi, identik komunitas kecil seperti itu mengedepankan kebersamaan melalui berbagai kegiatan seperti rekreasi, makan bersama di suatu tempat dan mengunjungi rumah rekan satu kelas. Apabila kebersamaan itu tanpa menyeimbangi toleransi dalam mencapai tujuan kebersamaan anggota kelas, semisal toleransi terhadap kesibukan rekan kelas yang lain, toleransi terhadap waktu yang digunakan karena semua anggota kelas tidak mungkin memiliki waktu luang yang sama dan lain-lain. Maka akan timbul konflik persepsi yaitu, persepsi kebersamaan dan persepsi toleransi yang akan menghasilkan kesimpulan bahwa kebersamaan yang tidak memiliki sikap toleransi terhadap kepentingan rekan lainnya. Hal ini terjadi terkadang akibat pimpinan komunitas kelas tersebut hanya mementingkan haknya pribadi, sehingga melupakan hak rekan yang lain.

Banyak hal yang menjadikan toleransi sebagai tolak ukur dalam mencapai kebersamaan, jadi kebersamaan akan mencapai sejatinya jika memiliki integrasi terhadap sikap toleran. Tidak hanya pada komunitas saja, tapi terhadap individu dengan individu lainnya jika kebersamaan dimaknai sebuah kedamaian satu sama lain. Yang mana inti dari toleransi adalah sebuah keadilan sehingga tidak mengarah kepada tindakan diskrimanasi terhadap yang lainnya, walaupun ada segelintir orang menyatakan toleransi adalah topeng untuk dijadikan senjata penolakan terhadap sesuatu.

Hakikatnya seluruh agama di dunia ini menjadikan toleransi sebagai bagian dalam mencapai kebersamaan, kedamaian, keadilan dan kesejahteraan, hanya saja oknum-oknum agama tersebut yang membuat seakan-akan agama di dunia tidak memiliki toleransi. Jadi hal yang wajar jika terjadi konflik diantara oknum agama yang satu dengan yang lainnya, semoga saya, dia, anda, mereka dan kita semua tidak akan melupakan salah satu sikap positif ini (toleransi) dalam berbagi mencapai manfaat terhadap sesama.




(Tulisan sederhana Blogger Fakir ini dibuat sebagai bentuk rasa hormat kepada Guru Besar yang mendapat julukan Bapak Multikulturalism dan Pluralism Yaitu KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur)


Komentar :

ada 1
Seputar-Internet mengatakan...
pada hari 

ditunggu sambungannya...

Blogger Fakir

WebBlog ini ada sebagai bukti rasa syukur kepada sang Maha Dahsyat atas pemberian kekurangan dan kelebihan pada seorang blogger fakir, WebBlog ini bagian dari keseharian blogger fakir menatap dunia.
Tak ada maksud untuk mengangkat diri melalui dunia blog sebagai manusia pandai, tapi rasa hormat atas pemberian-NYA yang begitu melimpah.
Sebagai manusia yang tidak lepas dari manusia lainnya, saya membuka pintu silaturrahim selebar-lebarnya kepada blogger atau pengunjung webblog ini. Contact Blogger Fakir:
Tempat Sekarang : Jl. Joyo Tambaksari 53A Kec. Lowokwaru Malang 65144
Tempat Asal : Jl. Walter Conrad 28 Sampit Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah 74322
Handphone : 085233373500
Email: hendiburahman07@gmail.com
Jangan segan-segan untuk memberi saran, kritik dan kesan mengenai webblog sederhana ini, karena hal itulah webblog ini bisa eksis.

Profil Facebook

Banner Kontes

Google AdSense Publicité

 

Komentar Terakhir

Kambing Tumbur

Community

Persembahan Blog Sederhana Dari Blogger Fakir Berbagi Mencapai Manfaat