Selasa, 10 November 2009

Musafir | Jangan Panggil Aku Gus


Setiap orang memiliki gaya hidup yang berbeda-beda, entah itu gaya hidup berkomunikasi dengan manusia atau berkomunikasi dengan penciptanya. Disini saya ingin menceritakan sekelumit prinsif hidup yang menjadi pegangan seorang musafir dalam berkomunikasi dengan sang Khalik. Musafir ini tiada hari tanpa mengorek kekuasaan Allah yang terpendam selama dia berkomunikasi dengan manusia sekitarnya, dia tampak rendah dihadapan manusia dan dia berusaha meninggikan derajatnya dalam komunikasi kepada sang Khalik.

Musafir ini hidup dalam kefakiran ilmu, kalau harta dan jabatan menurutnya tak pernah kurang bahkan lebih dari cukup atas pemberian sang Khalik. Namun, cobaan terbesarnya adalah derajatnya yang dianggap tinggi oleh orang disekitarnya. Padahal menurut dia bahwa derajat yang dia miliki saat ini adalah kebetulan dan belum mutlak sebagai manusia yang memiliki derajat tinggi menurut Allah, sehingga dia takut menerima nama panggilan yang khas sebagai bentuk simbol kehormatan bahwa dia adalah manusia yang memiliki derajat terhormat di masyarakat. Panggilan khas itu adalah Gus, karena dia kebetulan beristerikan seorang anak ulama yang kental dimasyarakat Indonesia dengan panggilan Kyai.

Rasa takut yang mendalam dia rasakan, disaat dia dipanggil dengan embel-embel Gus. Karena dia menganggap dirinya masih fakir menjadi orang yang bermanfaat di masyarakat, apalagi dihadapan sang Khalik. Berbagai terapi hidup yang dia jalankan agar tidak mendapatkan embel-embel Gus tersebut, namun hal itu sangat sulit dia lakukan. Karena ingin memiliki derajat rendah dihadapan manusia adalah memiliki akhlak kotor dan hina, sedangkan dia sangat menghindari hal tersebut.

Pemuda Musafir itu terus berikhtiyar kepada sang Khalik agar yang mengetahui derajat dan kemuliaan hidupnya hanya Allah, karena Allah adalah penilai yang Maha Sempurna dan bukan manusia yang menilai manusia lainnya dengan simbol semata.

Wallahu'alam.....

Komentar :

ada 2 komentar ke “Musafir | Jangan Panggil Aku Gus”
Akhmad Mujahid Shobri mengatakan...
pada hari 

Sebuah ungkapan hati yang terlontar dari seorang musafir borneo, yang mengharapkan suatu kebersamaan dalam sebuah bingkai kesetaraan persaudaraan dengan tanpa menyebut bahkan "menghargai" dirinya melebihi apa yang dimiliki dengan penuh rasa kerendahan. Namun, itulah kenyataan yg harus dihadapi dan diterima. Sebuah penghormatan yang layak diterima sebagai sebuah apresiasi orang disekitar.

Hendi Burahman mengatakan...
pada hari 

Belum Layak Mungkin Bro...
Kasian musafir tuh.........

Hahahahahaha

Blogger Fakir

WebBlog ini ada sebagai bukti rasa syukur kepada sang Maha Dahsyat atas pemberian kekurangan dan kelebihan pada seorang blogger fakir, WebBlog ini bagian dari keseharian blogger fakir menatap dunia.
Tak ada maksud untuk mengangkat diri melalui dunia blog sebagai manusia pandai, tapi rasa hormat atas pemberian-NYA yang begitu melimpah.
Sebagai manusia yang tidak lepas dari manusia lainnya, saya membuka pintu silaturrahim selebar-lebarnya kepada blogger atau pengunjung webblog ini. Contact Blogger Fakir:
Tempat Sekarang : Jl. Joyo Tambaksari 53A Kec. Lowokwaru Malang 65144
Tempat Asal : Jl. Walter Conrad 28 Sampit Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah 74322
Handphone : 085233373500
Email: hendiburahman07@gmail.com
Jangan segan-segan untuk memberi saran, kritik dan kesan mengenai webblog sederhana ini, karena hal itulah webblog ini bisa eksis.

Profil Facebook

Banner Kontes

Google AdSense Publicité

 

Komentar Terakhir

Kambing Tumbur

Community

Persembahan Blog Sederhana Dari Blogger Fakir Berbagi Mencapai Manfaat