Senin, 08 Februari 2010

Rihlah Ilmiah

Rihlah Ilmiah, Itulah bahasa yang khas di kampus saya dalam melaksanakan acara studi banding dan tour. Rihlah ilmiah itu saya laksanakan dengan teman-teman ke sebuah kota wisata dan yang dikenal juga dengan kota pelajar, kota mana lagi kalau bukan Yogyakarta. Rombongan dalam kegiatan Rihlah ilmiah ini melibatkan teman-teman satu kelas, suami atau isteri anggota kelas, 7 Mahasiswa satu kampus dan dua pendamping dari kampus, sehingga jumlah keseluruhan menjadi 38 Orang. Kami berangkat pada hari kamis tanggal 4 Pebruari 2010 tepat pukul 20.30 WIB start dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang melalui jalur Mojosari (Mojokerto).

Tempat awal yang kami kunjungi adalah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, disana kami diterima langsung oleh direktur pasca sarjananya di ruang pertemuan gedung Rektorat dan langsung melakukan diskusi interaktif. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga yang akrab disapa UIN SUKA sangat welcome sekali menerima rombongan kami, dalam forum interaktif banyak terobosan-terobosan yang dilakukan kampus yang dahulunya dikenal dengan IAIN Sunan Kalijaga. Terobosan yang mereka lakukan adalah membentuk satu jurusan pendidikan beasiswa di pascasarjana S2 dengan mengintegrasikan paradigma UIN SUKA dan salah satu kampus di Australia, apabila masuk jurusan tersebut maka kuliah di UIN SUKA 1 tahun dan di Australia 1 tahun. Hebatkan...?
(Menyerahkan Cinderamata oleh Saya Dari UIN MALIKI kepada UIN SUKA)

Setelah melakukan diskusi interaktif di UIN SUKA selama 2 jam, rombongan kami melanjutkan ke Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Di Kampus ini kami diterima dengan "seadanya", karena masuk kampus tersebut tepat pukul 11.20 WIB hari Jum'at maka diskusi hanya diawali dengan perkenalan selama 20 menitan dan dilanjutkan setelah Sholat Jum'at. Pada pukul 13.00 WIB, diskusi interaktif dilanjutkan. Dari pihak UNY hanya satu orang yang menerima kami, lain dengan UIN SUKA yang kurang lebih 7 orang melayani kami dalam berdiskusi. Dalam diskusi interaktif di UNY hanya sedikit yang kami dapat, tapi bukan berarti diskusi tersebut tidak informatif. Ada juga hasil diskusi yang informatif, seperti kiat-kiat dalam mendapatkan akreditasi A melalui jurnal dan beberapa kiat-kiat lainnya.
(Penyerahan Cinderamata oleh Pak Zainul Arifin sbg Pendamping Dari UIN MALIKI kepada UNY)

Setelah selesai melakukan diskusi Interaktif di UNY yang dulu akrab dengan IKIP Yogyakarta, kami melanjutkan perjalanan ke Universitas Gajah Mada (UGM). Pada diskusi di Kampus ini mengalami hambatan, mulai dari macetnya perjalanan di kota Yogyakarta dan kondisi alam yang hujan deras menghiasi perjalanan kami dari UNY ke UGM. Karena hal tersebut, kami mengalami keterlambatan yang harusnya kami memulai diskusi interaktif di Kampus UGM pada pukul 14.00 WIB menjadi pukul 15.00 WIB., alhamdulillah...pihak UGM bagian Jaminan Mutu membuka pintu silaturrahminya dengan senang hati, saat masuk ruangan diskusi kami sempat agak sungkan. Karena, walaupun kami terlambat pihak Jaminan Mutu UGM bersedia mempresentasikan sistem Manajemen Mutu dengan luasnya dan setiap meja ruang diskusi sudah tersedia snack untuk kami (beda dengan UNY yang hanya menyediakan brosur informasi mengenai pasca sarjana UNY). UGM adalah kampus terakhir yang kami kunjungi, banyak hal-hal informatif kami dapatkan dikampus yang luas ini. Diantaranya mengenai penegakkan disiplin di kampus tersebut dan beragam teori manajemen mutu yang baru bagi kami, memang sebelumnya para dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pernah melakukan studi disini, namun bagi kami teori Manajemen Jaminan Mutu  di UGM tidak akan pernah basi dan harus terus dikaji.
(Penyerahan Cinderamata Oleh Mas Aziz dari UIN MALIKI kepada UGM)

Setelah melakukan diskusi interaktif di tiga kampus besar di Yogyakarta, kami melanjutkan perjalanan ke penerbit buku yaitu RESIST BOOK yang dikenal sebagai penerbit Perlawanan. Di rumah plus kantor bagi sukarelawan RESIST book kami diterima dengan ramah oleh penghuninya, pada awalnya kami ingin bertemu dengan Eko Prasetyo penulis buku ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH, GURU MENDIDIK ITU MELAWAN dan lain-lain. Namun keinginan itu tertunda, semoga dilain waktu saya atau teman-teman yang lain bisa bertemu beliau. Kami tidak kecewa atas hal tersebut, disana kami juga menemui salah satu tokoh dari RESIST BOOK yaitu Tri Guntur Narwaya, M.Si alias Mas Guntur (penulis: Matinya Ilmu Komunikasi, Kuasa Stigma dan Represi Ingatan, dan banyak buku yang ditulisnya). Mas Guntur menceritakan panjang lebar mengenai RESIST BOOK, mulai dari INSIST sampai ke RESIST serta menjelaskan dengan gamblang bentuk eksistensi mereka dalam memperjuangkan semangat baca dan lawan. Saya sebagai seorang Blogger Fakir sangat kagum dengan bentuk perlawanan atas penindasan oleh mereka melalui tulisan, sejenak saya terpikir "saya pasti menerbitkan tulisan perlawanan disini..." kereeeen.... Suasana keakraban tampak dalam forum tersebut, padahal pertama kalinya kami mengunjungi RESIST BOOK ditambah hidangan gorengan khas mahasiswa yang hangat dan nikmat. Subhanallah...... biasanya di rumah yang berbasis perlawanan kita menemukan ratusan pucuk senjata dan amunisi, tapi di RESIST BOOK kami menemukan ratusan buku dan berbagai variasi tulisan serta simbol perlawanan dari kata-kata.  Akhirnya, selepas diskusi kami melakukan foto bersama Mas Guntur dan saya meluangkan rezeki saya untuk membeli buku dan kaos sebagai dukungan terhadap "BACA dan LAWAN !!!". Semoga tujuan positif RESIST BOOK tercapai...!!!
(Diskusi santai bersama Tokoh RESIST BOOK bang Guntur)

Setelah mengunjungi RESIST BOOK, kami melanjutkan perjalanan ke rumah tokoh sastra Nasional, yaitu Pak Kuswaydi Syafi'i untuk berdiskusi mengenai tema SAWUNGGALING KAWULO GUSTI.  (Bersambung ke Rihlah Ilmiah 2)

Kamis, 04 Februari 2010

Integrasi Kebersamaan dan Toleransi

Bicara kebersamaan akan lebih efektif jika diimbangi dengan toleransi, karena kedua unsur tersebut adalah bagian dari kehidupan sosial terhadap sesama. Apabila kebersamaan tidak mengikutsertakan toleransi, kemungkinan besar dalam kebersamaan tersebut timbul sebuah ketimpangan yang merugikan salah satu pihak.

Jika kebersamaan menjadi sebuah tujuan, maka toleransi menjadi sebuah kewajiban sebagai instruktur pertimbangan dalam menentukan hal-hal yang berkaitan dengan kebersamaan itu. Kita ambil contoh sebuah komunitas kecil seperti kelas di sekolah atau perguruan tinggi, identik komunitas kecil seperti itu mengedepankan kebersamaan melalui berbagai kegiatan seperti rekreasi, makan bersama di suatu tempat dan mengunjungi rumah rekan satu kelas. Apabila kebersamaan itu tanpa menyeimbangi toleransi dalam mencapai tujuan kebersamaan anggota kelas, semisal toleransi terhadap kesibukan rekan kelas yang lain, toleransi terhadap waktu yang digunakan karena semua anggota kelas tidak mungkin memiliki waktu luang yang sama dan lain-lain. Maka akan timbul konflik persepsi yaitu, persepsi kebersamaan dan persepsi toleransi yang akan menghasilkan kesimpulan bahwa kebersamaan yang tidak memiliki sikap toleransi terhadap kepentingan rekan lainnya. Hal ini terjadi terkadang akibat pimpinan komunitas kelas tersebut hanya mementingkan haknya pribadi, sehingga melupakan hak rekan yang lain.

Banyak hal yang menjadikan toleransi sebagai tolak ukur dalam mencapai kebersamaan, jadi kebersamaan akan mencapai sejatinya jika memiliki integrasi terhadap sikap toleran. Tidak hanya pada komunitas saja, tapi terhadap individu dengan individu lainnya jika kebersamaan dimaknai sebuah kedamaian satu sama lain. Yang mana inti dari toleransi adalah sebuah keadilan sehingga tidak mengarah kepada tindakan diskrimanasi terhadap yang lainnya, walaupun ada segelintir orang menyatakan toleransi adalah topeng untuk dijadikan senjata penolakan terhadap sesuatu.

Hakikatnya seluruh agama di dunia ini menjadikan toleransi sebagai bagian dalam mencapai kebersamaan, kedamaian, keadilan dan kesejahteraan, hanya saja oknum-oknum agama tersebut yang membuat seakan-akan agama di dunia tidak memiliki toleransi. Jadi hal yang wajar jika terjadi konflik diantara oknum agama yang satu dengan yang lainnya, semoga saya, dia, anda, mereka dan kita semua tidak akan melupakan salah satu sikap positif ini (toleransi) dalam berbagi mencapai manfaat terhadap sesama.




(Tulisan sederhana Blogger Fakir ini dibuat sebagai bentuk rasa hormat kepada Guru Besar yang mendapat julukan Bapak Multikulturalism dan Pluralism Yaitu KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur)


Pemimpin Yang Baik

Karakter setiap orang sangat beragam, begitu juga gaya dalam berorganisasinya. Sebagai pemimpin sering terselip berbagai ide, keinginan dan tidak lepas juga harapan untuk menjadi lebih baik. Kadang pemimpin menjadikan dirinya sebagai puncak kebenaran dan kadang pula anggotanya menjadi kunci dalam menentukan kebenaran tersebut. Banyak hal yang mempengaruhi kepemimpinan, khususnya pengaruh lingkungan yang dominan.
Keanekaragaman karakter dalam diri pemimpin memang sangat berpengaruh terhadap organ yang dipimpinnya, sehingga kadangkala penilaian sebuah organ tergantung pada karakter pemimpinnya. Dengan demikian, maka pemimpin dituntut untuk membina karakternya sehingga karakter positif seorang pemimpin akan berimbas kepada organ yang dipimpinnya. Apabila demikian, timbul pertanyaan. Bagaimana menciptakan pemimpin yang memiliki karakter positif?

Teringat dengan seminar yang saya ikuti pada tahun 2005 lalu, yang mana saat itu Mahfud MD (Tokoh Nasional) mengatakan bahwa pemimpin itu tidak diciptakan oleh manusia. Tapi pemimpin itu tercipta oleh lingkungannya dan atas kebutuhan sesuatu yang dipimpinnya. Memang hal itu sering terjadi dalam kehidupan berorganisasi, kadang seorang pemimpin saat terpilih tidak tampak karakter kepemimpinnya. Akan tampak karakter kepemimpinannya disaat ia melaksanakan pekerjaannya dan yang lebih banyak pemimpin akan terangkat karakternya disaat ia benar-benar menikmati pekerjaannya.

Bagi saya, pemimpin yang baik adalah PEMIMPIN YANG MENGORBANKAN DIRINYA UNTUK KEPENTINGAN ANAK BUAHNYA dan pemimpin yang tidak baik adalah PEMIMPIN YANG MENGORBANKAN ANAK BUAH UNTUK KEPENTINGAN PRIBADINYA. Itulah sekilas pengalaman dalam Berbagi Mencapai Manfaat seorang Blogger Fakir menikmati kepemimpinannya, entah itu taraf lembaga sekolah, unit kegiatan mahasiswa (UKM), kepanitiaan dan beberapa sub organ yang pernah diikuti.

Sukses Untuk Semua, semoga kita bisa menikmati kursi kepemimpinan dengan ikhlas, sabar dan bersyukur atas amanah yang dijalankan.

Minggu, 31 Januari 2010

Polisi Anjing dan Babi | Introspeksi

Facebook sebagai jejaring sosial nomor satu dunia saat ini tidak hanya sebatas sebagai sarana komunikasi penggunanya saja, tapi memiliki beragam manfaat diantaranya untuk curhat, mengungkapkan perasaan, promo bisnis online juga offline dan yang jelas bukan sebagai arena "permusuhan". Disadari atau tidak, bahwa segala sesuatu yang mengarah kepada tindakan pelecehan nama baik dimanapun dan kapanpun di Indonesia bisa membuat kita berurusan dengan pihak berwajib.

Berkaitan dengan Polisi Anjing dan Babi, merupakan kasus yang baru terjadi di Gorontalo yaitu tulisan yang ada di akun facebook salah satu mahasiswi Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Dalam akun facebooknya terdapat cacian "Polisi Anjing dan Babi" yang diarahkan kepada anggota kepolisian berpangkat brigadir dua, akhirnya karena tulisan itu ia dituduh melakukan pencemaran nama baik korps kepolisian. Saat ini kasus tersebut masih dalam peninjauan. (Berita Tv One)

Belajar dari kasus Prita dan Luna Maya, sebagai pengguna fasilitas dunia maya kita dituntut berhati-hati khususnya yang tidak memiliki uang banyak. Apabila uang banyak, maka urusan akan mudah diselesaikan sebagaimana kasus Luna Maya. Sebaliknya kasus Prita, sedikit materi akhirnya masalah tulisannya di email berkepanjangan dan syukurlah saat ini sudah selesai akibat dukungan rakyat kepadanya tidak kunjung henti.

Kembali pada kasus facebook di atas, ada tanggapan yang menarik dari pembaca di situs Tv One mengenai kasus tersebut. Anda bisa lihat gambar di bawah ini, ada dua komentar dalam berita tersebut yang bisa kita jadikan introspeksi.
 
Bagi anda yang ingin melihat langsung beragam komentar atas kasus tersebut, bisa klik disini. Bagaimana menurut kawan-kawan mengenai kasus tersebut? Apakah hukum perlu diperjelas? Atau memang kurangnya sosialisasi mengenai hukum di Indoneisa ini, sehingga para pelakunya tidak sadar kalau itu melanggar hukum?

Wallahua'alam



Tentang Saya

Nama Saya Hendi Burahman, Saya bukan orang yang profesional dan juga bukan manusia sempurna. Saya adalah manusia yang beruntung bisa terlahir didunia ini dengan kekurangan, sehingga menuntut saya untuk menutupi kekurangan tersebut dengan Ilmu dan Pengalaman. Saya terlahir di Kota Sampit Kab. Kotawaringin Timur Prov. Kalimantan Tengah. Saya bangga jadi warga Sampit yang menjalankan kehidupan ini dengan HABARING HURUNG dan menata langkah dengan AUH ATEY. Saya berharap dengan anda membaca tulisan di website sederhana ini, anda lebih jauh mengenal saya. Karena isi tulisan ini adalah eksistensi kefakiran seorang Hendi Burahman dalam Berbagi Mencapai Manfaat.
___________________

Profil Facebook

 

Komentar Terakhir

Kambing Tumbur

Community

Persembahan Blog Sederhana Dari Blogger Fakir Berbagi Mencapai Manfaat